Detail Cantuman Kembali
kuat lentur sambungan tipe groove and tonngue joint dengan kayu kamper (Dryobalanops lanceolata) menggunakan dua tumpuan beban terhadap konstruksi lunas kapal kayu
Kapal merupakan sarana transportasi laut yang sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat pesisir khususnya di wilayah Indonesia. Mengingat kelangsungan hidup di jaman modern seperti sekarang ini maka kayu akan sangat sulit diperoleh jika dalam pembuatan kapal menggunkan kayu yang sangat panjang, maka dalam pembangunan kapal diperlukan cara seefisiensi. Penggunaan kayu kamper dengan nama ilmiah (Dryobalanops lanceolata) merupakan satu alternatif material untuk pembuatan konstruksi lunas kapal. Alasan menggunakan kayu tersebut dikarenakan termasuk kayu dengan Kelas Awet II, III dan Kelas Kuat II, I. Dalam penelitian ini dilakukan uji kekuatan lentur di Laboratorium Mekanika Kayu dan Pusat Penelitian, Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Bogor dengan menggunakan perekat (resorcinol formaldehyde) dan kombinasi pasak dan perekat pada kayu kamper untuk konstruksi kapal berdasarkan standar ASTM D143 (American Standard for Testing and Material). Dimana pasak yang digunakan terbuat dari Bambu Petung (Dendrocalamus asper) dengan diameter sebesar 10 mm. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kekuatan lentur terbaik pada sambungan lunas kapal menggunakan dua tumpuan beban, serta sambungan manakah yang paling baik untuk lunas kapal. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan di Laboratorium Mekanika Kayu dan Pusat Penelitian, Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Bogor. Nilai rata-rata MOE terbaik dari satu sambungan adalah spesimen dengan posisi sejajar sebesar 59.864 kg/cm2 sedangkan rata-rata nilai MOR terbaik pada posisi sejajar sebesar 503.552 kg/cm2 dan nilai rata-rata MOE terbaik dari dua sambungan adalah posisi sejajar sebesar 72.552 kg/cm2 sedangkan nilai rata-rata MOR paling baik adalah posisi sejajar dengan hasil sebesar 562.115 kg/cm2 . Untuk nilai defleksi tertinggi pada spesimen 2.T.2.3 dengan pembebanan interval 250 kgf dan nilai defleksi sebesar 11,02 cm. Hasil pengujiaan Analisys of Variance (ANOVA) bahwa pengujian mempengaruhi perbedaan setiap sambungan dan terjadi perubahan.
621.18.14 Pet k
NONE
Text
Indonesia
Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan, Universitas Hang Tuah
2018
Surabaya
xvii, 101 p. : ill. ; 29 cm.
Skripsi
LOADING LIST...
LOADING LIST...







